Lilitan Rasa

    Rabu itu kesekian kalinya aku menjauh dari ketakutan tentang kritisnya benteng asmara yang telah lama di bangun, dengan penuh rasa kehati-hatian perlahan aku menjauh dari lilitan rasa yang tanpa sengaja entah itu kapan, ntah itu karena gurauan bahkan sebuah kesengajaan, entah hanya aku yang terlalu kepedean atau mungkin juga dengannya. lucu, aneh bahkan konyol,
    Rabu apa kau baik baik saja ?, lagi-lagi kita bertemu, ini hampir sama dengan saat pertama aku bersamamu, beda nya aku semakin pintar dalam menata asmara, sakitmu waktu itu menjadikan aku gelisah tak menentu, kali ini dengan dia yang berbeda aku biasa saja, di karenakan ada banyak gerbang yang tak kuizinkan masuk dan hanyut tentangmu.
    Rabu, mengapa aku ?, begitu istimewakah aku bagimu, hingga aku yang menjadi pilihanmu, itu karena aku mampu menata rasa dengan begitu rapi tanpa rasa, tunggu dulu jika kau anggap aku mudah kau salah, aku bahkan lebih rumit dari rumus fisikamu tempo hari, jangan kau sembunyikan atau bahkan jangan kau kirimkan kode padaku, aku terlalu sulit untuk menjadi peka jika kau tak datang dan mengatakan yang sebenarnya. atau mungkin kau yang tak terlalu berani untuk itu, dan aku memahaminya, kau tau harapanku padamu tentang kita, tak kan ku izinkan satupun rasa itu masuk dalam lingkaran kita. 
    Menggores dari secarik kertas demi kertas, dari satu tinta ke tinta yang baru, merupakan tugas yang paling sulit dan rumit bahkan sulit untuk di ungkit, ntah itu tentang cinta atau derita, bahkan kau akan bertemu dengan jalan buntu, sudut cerita yang berputar dari tiap sudut lilitan rasa cinta. lewat ini lah kau akan memahaminya, bahwa aku terlalu takut untuk jatuh cinta, setelah bertemu dengan nya yang hanya tau rasa enak tanpa tau sulitnya orangtuaku mendapatkanku. tanpa sengaja tanpa sadar bahwa kau menyimpan banyak trauma mental tentang kata sebuah cinta.

Komentar

Postingan Populer