Ketika Rindu harus Mengalah

Aku masih seperti yang dulu, masih sendiri, masih menunggumu. Aku pun tau bahkan sadar betul bahwa kepastian yang di tunggu hanya sebatas dongeng sebelum tidur. Aku tetap saja percaya bahwa kau paham arti sandi yang ku berikan tempo hari. tentang senyum tanpa jeda bahkan tawa penuh makna. dan aku juga yakin pada kenyataannya hatimu adalah milikku. gurauan tempo hari yang kau berikan, bukan terabaikan melainkan aku takut pada akhirnya segalanya bukan untukku. biarkan saja, biarkan segalanya berjalan sesuai yang telah di rencanakan. akupun tak ingin terlihat konyol dimatanya, jadi kuputuskan untuk terlihat biasa saja. menyakitkan memang, menahan rasa yang tak mampu di ungkap, aku harus tetap tersenyum di matanya, berharap pada akhirnya ia benar benar hadir dan itu hanya untukku.

senja pun berganti menjadi rindu, aku yang kesekian kali menahannya harus berjuang melawan rindu yang merajalela, hati yang semakin rapuh harus tetap bertahan demi ia yang di tunggu. tak di pungkiri bahwasannya aku cemburu melihatnya menceritakan wanita lain dihadapanku, namun, aku akan terlihat konyol jika harus cemburu yang membabi buta, helo secara aku ini dewasa bukan anak SMA yang harus terbakar dengan api penuh kecemburuan. sadar bahwa mencintai itu memang mudah, namun, untuk benar benar mengetahui bahwa ia juga sama memiliki rasa terhadapku itu yang sulit. so akupun harus menahan rindu terhadapnya, dan ketika suatu hari nanti tambatan hatinya bukanlah aku, akupun harus siap mengalah dan melepaskannya.

melepaskannya ?, maksudnya bukan aku pernah memilikinya, melainkan aku akan pergi lebih jauh lagi dari hadapannya, aku takut bahkan sakit ketika harus berhadapan dengan sosok ia yang dalam diam ku cintai.dan harus mengalah demi tambatannya yang lain.  lari dari kehidupannya, menjauh demi ia yang di sayang, merupakan pilihan terbaik, jikapun ia hanya mengujiku, pastinya ia yang akan mencariku. dengan membawa sejuta jawaban tentang kode dari sandi yang ku berikan tempo hari. kami memang sengaja di pertemukan ditempat yang sama, sebelumnya kami jauh dari kata saling kenal hingga pada akhirnya kami saling mengenal. untuk sejuta alasan dan itu masih dalam pencarian jawaban tentang mengapa kami ditakdirkan bertemu. masih dalam kata semu bahkan menahan rindu. jadi kutitipkan sepucuk surat tentang aku dan dia pada angin agar dunia tau bahwa kami tak bisa di pisahkan. sejauh apapun kami terbang tetap dalam pelukan kami pulang. hanya butuh sedikit kesabaran kita pasti bersama.

Komentar

Postingan Populer