cerita clasikku malam ini

siapa yang akan tau bahwa cinta itu akan di rancang dengan sedemikian rupa, agar menjadi sebuah kesempurnaan yang bernilai tinggi bagi mereka yang sedang merencanakannya, namun siapa sangka bahwa cinta itu di rancang tuhan sebagai sebuah surprice bagi kita manusia, tidak munafik bahwasanya perjalanan cinta yang selama ini kita harapkan berjalan mulus akan tetap kita temui krikil krikil tajam di pertengahannya. why ? sebab, semua krikil itu merupakan bumbu kehidupan, tanpa mereka siapa dong yang akan membuat kita belajar akan arti sabar dan ikhlas.

bukan ingin berbicara bijak , bukan juga ingin terlihat pintar dalam soal berbicara. namun, kenyataannya memang begitu, setiap pertemuan pastinya kita harus siap dengan perpisahan. begitu pula sebaliknya. dan kalian pasti tau itu, hanya saja kalian tak mau membenarkannya. kebanyakan dari kita pasti menyangkal bahwa perpisahan itu terjadi karena salah si ini atau salah si itu, padahal kalau di pilah pilah ternyata semua kesalahan terjadi bersumber dari hanya pada diri sendiri.tak jauh bukan !!! bukan si ini atau si itu, yang harus di persalahkan, melainkan belajarlah untuk menyalahkan diri sendiri, itung itung intropeksi diri, agar kita sadar bahwa keegoisan yang terjadi dalam diri merupakan sebuah kesalahan besar yang tak akan terulang lagi. you know , why ? . kesalahan dalam sebuah hubungan yang paling lazim di temui adalah keegoisan yang selalu di pertahankan oleh pemiliknya sendiri. intinya kita tak mau disalahkan atau tidak mau mengaku salah. 

kegoisan yang selalu di petahankan dalam sebuah hubungan agar kita terlihat baik, intinya hubungan yang ingin mereka bangun merupakan hubungan dengan penuh keharmonisan, agar semua yang melihatnya kagum dan iri, bukan mereka saja, bahkan aku yang disini selalu berharap memiliki hubungan dengan bumbu bumbu penuh keharmonisan. namun, sayangnya hubungan yang aku harapkan selalu berakhir dengan kebencian, ntah siapa yang salah tapi aku hanya bisa menjawab bahwa kami memang benar-benar tidak cocok.

kecocokan yang selalu aku harapkan bukan sekedar ucapan penuh dengan keromantisan, bisa di bilang kata i love u , atau aku sayang kamu. jujur, aku tak tertarik dengan itu semua, aku hidup dan besar dari keluarga yang penuh dengan kekerasan. ayah dan ibu ku membesarkan aku dan saudara2ku dengan kedisiplinan penuh. jika kami salah, kami pantas mendapat hukuman sesuai kesalahan yang kami perbuat. so, jauh dari pandangan hidup, bisa di katakan kami tak pernah mendapat perlakuan keromantisan, makan dari itu jadilah pasangan yang biasa-biasa saja. sebab aku tak pernah tertarik dengan ucapan penuh keromantisan.

kekerasan yang selalu di dapat dalam keluarga bukanlah sebuah bentuk kebencian orang tua terhadap kami anak-anaknya, melainkan itu lah bentuk cinta dan kasihnya terhadap kami, agar kami anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang tak mudah di injak orang-orang yang menganggap kami lemah. diam bukan berarti bego, ayahku selalu berpesan pada mereka yang selalu dekat dengan ku, 

"jangan kau mengganggu macan yang sedang tidur, anak gadisku memang kebanyakan diam, tapi diam dan senyumnya bisa saja suatu hari nanti membunuhmu. banyak yang ia catat dari tingkah, gerak gerikmu yang di lihatnya. so hati-hatilah. tidak katanya tetap tidak".

sayangnya nasehat itu dianggap remeh oleh seorang lelaki yang dulunya pernah menjadi tamu dalam hidupku, tamu ini pernah mengisi hari-hariku dengan warna-warni kehidupan, pastinya ada canda tawa disana, dan tidak dipungkiri juga ada air mata. hanya sedikit persoalan sengit, namun itu fatal menurutku. hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini.  siapapun pasti akan marah jika orang tuanya di anggap rendah oleh orang lain, namun, disini, aku tidak marah dengan nada yang tinggi atau kasar, melainkan disini aku hanya menyampaikan pesan lewat sebuah senyuman. hingga aku mendapat sebuah pesan permintaan maaf, yang mengatakan," apa tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki hubungan ini" . so,aku hanya bisa menjawab 'tidak'. hubungan ini over. cuma satu, jika hubungan kita tidak bisa di perbaiki lagi, setidaknya kau bisa membangun hubungan dengan orang lain menjadi lebih baik lagi, dan satu, jangan terlalu over protective, so u boyfriend just friend.yang pantas overprotective just dad or a parenting. no boyfirend. sudah dewasa ? pastinya mengerti. jika tidak mengerti pastinya kamu belum dewasa. belajarlah dari kesalahan yang pernah di perbuat, bukan menggali kesalahan lebih dalam lagi itu artinya kau bunuh diri. akan banyak wanita yang tersakiti bila tidak kau rubah sifatmu itu.

hari itu aku merasa begitu free, sejak hari itu aku memutuskan untuk kembali dengan aktivitasku, come back to my life, untuk saat ini aku memilih untuk sendiri dulu, soal asmara aku harap belum dulu. bukan berarti aku tak laku melainkan am happy to single. masih banyak yang harus aku selesaikan, masih banyak aktivitas yang tertunda yang harus aku kejar. ayah dan ibuku sedang menunggu senyuman termanis dariku, sambil berkata : am happy like this, so you dont worry.

perpisahan ini bukanlah yang pertama yang aku alami, melainkan yang ntah berapakali, yang pasti kesekian kalinya, hingga ada sebuah pertanyaan menghampiriku saat itu, kenapa tidak ada air mata dalam perpisahan ini ? apakah dirimu bahagia dengan perpisahan ini ? atau memang sudah kau rencanakan ? apa kau sudah bsan dengannya ?... pertanyaan itu membuahkan sebuah senyum sengit dari bibirku.  tidak lazim lagi, semua orang yang pernah menjalin hubungan  pastinya pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu.

psatinya aku jawab ia, namun, itu semua telah kupilah pilah hingga aku mampu berkata berakhir, dengan penuh tanda tanya, dengan penuh toleransi, aku kasi kesempatan, namun, tetap perlakuan yang sama, buat apa lagi, jika ia tak mampu bersikap pantas sebagai lelaki. tak pernah sedikitpun aku memperburuk keluarganya dengan berbagai kekurangan, but, kenapa ia begitu memperlakukanku, memang keluargaku banyak kekurangan tapi dia tak pantas meremehkannya, ini hidupku, jika mau menerimaku, ia juga harus bisa menerima keluargaku. mungkin sedikit kasar. tapi itu kenyataannya. ia memang tak cocok lagi denganku.

sebagai pelajaranku saat ini, mencari pasangan biarlah dengan isi-isinya, bukan hanya bisa berkata aku nerima kamu apa adanya, melainkan terimalah dengan keluarga2nya. ibarat membeli buku jangan liat covernya saja tapi liatlah isinya juga. setidaknya maulah kiranya membaca sinopsi di belakangnya.

#be careful for me




Komentar

Postingan Populer