Ilalang Merah Jingga



Ilalang merah jingga

Baru beberapa hari ia tumbuh, besar dan berkembang. Semakin hari ia semakin menghijau, untuk kesekian kalinya aku tak ingin melewatkan waktu bersama dengannya, baik pagi maupun sore. Kini ia tak lagi sehijau dan seceria dulu apa mungkin tinggal menunggu beberapa hari lagi ia akan mongering dan dengan mudah para petani membakar dan menggantikannya dengan tumbuhan lain, ia  mungkin akan lenyap akan mati, namun, aku akan selalu menemani detik detik terakhirnya, aku yang selalu mendatanginya setiap pagi dan juga sore, aku yang berusaha semampuku menyelamatkannya dengan memberikannya sedikit air, walau hasilnya tetap nihil.
Ada atau tidaknya pekerjaan rumah, aku selalu membereskannya agar segera dengan cepat menemaninya. tak ingin ku lewatkan sedetikpun jauh darinya, selama ini ia yang menemani hari hariku yang penuh dengan kesunyian. Kini aku ingin bersamanya sampai akhir hidupnya. Ilalang adalah teman sejatiku, sejatinya ia yang selalu hadir dan sabar bersamaku, kesetiaannya mendengar jeritan tangis, amarah, kebencianku juga pada siapa aku marah atau pada siapa aku sayang. Dan ia juga teman yang setia menjaga setiap kata demi kata yang terlontar dari mulutku. ia tak pernah membalas amarah ketika aku sedang marah padanya. Karena ia selalu tahu bahwa aku tak pernah marah dan benar benar membencinya, ia hanya korban dari setiap amarahku.
Aku merasa seperti punya cinta, layaknya pasangan yang sedang kasmaran, berharap mendapat cinta sejati kini benar benar kutemui. berbaring di atasnya, seakan berlayar jauh ketengah samudera, mimpi berkeliling mengarungi samudera adalah satu dari jutaan harapan yang ku gantungan kepadanya, kini ia sudah semakin tua namun tetap nyaman untuk ku rebahkan, tipisnya helaian daunmu membawaku hanyut dalam angan angan, sedikit serek dan gatal tapi aku merasa nyaman bersamamu. Setiiap sore kususuri jalan setapak demi setapak bersama sebotol air mineral aku bergegas pergi untuk segera menemanimu. Dengan, penuh harap aku yakin bahwa ada keajaiban dari Tuhan untuk tetap membiarkan engkau tumbuh dan menghijau.
Kenapa ilalang ? kenapa kau tak jatuh cinta padaku. Kata itu memang kedengaran sedikit memaksa. Mungkin karena ilalang bukanlah manusia. Semua itu mustahil terjadi, hanya saja sedikit banyak dia selama ini mengajarkanku arti kesetiaan dan kebersamaan, terluka bagaimanapun, aku tak pernah marah padanya dan tetap selalu hadir disela sela kekosonganku. Namun,  Andai aku bisa memelukmu, andai bisa kugenggam tanganmu, andai bisa ku luahkan isi hatiku, ingin sekali ku berkata. Jangan pergi tinggalkan aku ilalang. Aku tak ada teman lagi. Kenapa semua pergi dari ku ilalang, kenapa kau juga akan meninggalkan aku. Kenapa semua yang setia padaku selalu pergi  dan menjauh dengan cepat. ibu pergi dariku, padahal beliau pernah berjanji bahwa tidak akan meninggalkan aku. Kenapa ilalang, kenapa !!!. jawab akuuu... ach aku mulai gila gila dengan keadaanku yang tak kunjung selesai.
Aku menulis banyak hal disini. Pada secarik kertas telahpun terpenuhi, ntah dari mana asal cerita, yang jelas semuanya tentang aku dan hidupku, ntah soal asmara, keluarga atau tentang aku dengan sekitarku, yang pasti ketika aku harus memulai menceritakan semua yang terjadi itu berarti aku telah lelah dan mulai melemah. tanpa  sadar akupun telah menghabiskan bercangkir cangkir kopi. Namun sayang, tak 1 pun tulisanku tersambung. Aku selalu memutusnya di tengah perjalanan.  Aku tak punya ide. Bahkan aku tak memiliki cukup keberanian atas tulisanku. Aku selalu memblock setiap ide yang masuk dalam otakku.  
Akankah tulisanku ini nantinya memiliki penggemar sendiri ? maybe. Dan aku orang pertama yang akan mengucapkan terimakasih pada mereka yang sudi membaca setiap baris dari kisah ini. Kisah yang ntah dari mana ujung dan pangkalnya. Mungkin kali ini belum sempurna namun aku yakin esok hari tulisan ini akan lebih bermakna dan jelas.
Walau hanya sebatas mereka yang tak mengerti seni, atau mereka yang terpaksa membacanya, aku pasti akan menjadi wanita pertama yang begitu bahagia. Biarlah mereka disana menertawakanku, biarlah mereka meremehkanku. Aku punya niat menghabiskannya. Aku selalu yakin. Aku bisa menjadi seorang author. memang tak mudah menjadi orang sukses. tapi aku tau Tuhan akan menemani setiap hariku ilalang.
Hari demi hari ku perhatikan ia mulai layu dan mengering, saat sunrise muncul, terlihat jelas warnamu menguning dan tampak sangat kering, cahaya itu memperjelaskan padaku bahwa kau memang benar-benar tua dan akan segera mati, dan aku harus ikhlas akan kepergiannya. Kau mungkin akan pergi jauh bersama angin dan debu, tapi tidak dengan kenanganmu bersamaku, kau memang tidak lagi bersamaku nanti, namun, kebahagiaan kau dan aku akan tetap bersama, mungkin itu yang di namakan persahabatan sejati. Jika nanti kita tak lagi bisa bersama aku berharap aku bisa mendapatkan pengganti ilalang yang sama denganmu. Jikapun bukan kau yang dulu setidaknya ada kau dalam hatiku. Selamanya.

Komentar

Postingan Populer