Masa Lalu
Lahir dengan kondisi prematur bukanlah hal yang mudah untuk orang tuaku berjuang agar putri semata wayangnya bisa tetap bertahan hidup tanpa ingkubator, Prekekonomian yang tak memadai membuat orangtua ku tak mampu membayar ingkubatornya, hingga aku mulai mengerti, ibuku sedikit angkat bicara, bercerita tentang masa laluku, Lahir dalam keadaan tidak cukup bulan, prediksi keluarga kalau aku akan lahir tanpa bisa berbicara alias bisu. Aku sendiri sulit untuk bertanya bagaiumana cara mereka membuatku tetap
hidup hingga kini, yang jelas terlihat raut wajah mereka yang penuh
dengan cinta tak pernah hilang, terlihat ketika aku sakit mereka selalu
panik, ibuku selalu menangis melihat kondisiku, padahal hanya demam
biasa, berbeda dengan ayahku, beliau selalu terlihat tenang, walau
hatinya menangis melihat keadaanku.
hari itu tepatnya aku duduk di kelas
X (2 SMA), tepat tanggal 23 juli aku memutuskan untuk pulang kerumah padahal rencana awal aku tidak ingin pulang dikarenakan libur hanya seminggu, sayang uang pikirku, ach ntah kenapa aku bersi keras untuk pulang, ku ringankan kakiku menuju pelabuhan sri bintan pura untuk mencari tiket dan bertolak ke tanjungbalai, rasanya tak sabar bertemu mereka ayah ibuku, berbekalkan air putih tanpa sarapan bagiku sudah biasa, akhirnya kapal yang ku naiki berlabuh, biasanya waktu lima jam bukanlah waktu yang lama bagiku, namun, ntah kenapa waktu itu begitu lama, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhku padahal AC kapal menyala dengan kenceng, perutku begitu lapar waktu itu, ku usahakan untuk tidur agar tidak terasa lapar namun sulit, akhirnya ku habiskan air yang ku bawa agar tidak terasa lapar juga sulit rasanya, hatiku mulai gelisah, apa yang sebenarnya terjadi pikirku. terdengar suara seorang wanita memanggil namaku,
"tersontak aku bertanya siapa ? , wanita itu menjawab "ini tante nak", lupa kah, aku cuma bisa senyum, karena kondisiku mulai melemah.
tak berapa lama si wanita itu memberiku donat untuk dimakan mungkin wanita itu tau bahwa aku begitu lapar, awalnya aku menolaknya, akhirnya ku ambil juga karena di paksa, lumayan bisa mengganjal sampai tujuan. setibanya aku di dermaga, "ayahku bertanya sakitkah ?.. aku hanya bisa menjawab gak tau".
Sesampai di rumah terlihat wanita separuh baya yang selalu setia menugguku diatas kursi tua dengan sigap berdiri dengan penuh senyum menyambutku putrinya, ia adalah ibuku, ibu yang selalu berkata ibu sayang kakak hingga kini aku rindu kata kata itu, malam sudahpun tiba, suhu badanku mulai tinggi, mataku sulit untuk terpejam, aku berusaha untuk tidak menampakkan diri kalau aku sakit didepan mereka, namun itu semua nihil, ayah dan ibuku selalu tau celah dimana aku bisa menyembunyikannya, 3 hari berselang tak juga kunjung reda panasnya, hingga hari ke 4 siang itu aku mulai bahagia dikarenakan suhu panasnya turun, tak terpikir olehku kenapa suhunya turun drastis, yang jelas aku bahagia, berselang beberapa jam setelah suhunya turun, mataku mulai memandang keatas terus, aku mulai takut dan panik, ibuku langsung menelpon ayahku mengabari kondisiku semakin memburuk, hingga dini hari akhirnya orangtuaku memutuskan untuk membawaku ke Rumah sakit, 2 biji pil tidur ntah obat apa itu diberikan kepadaku tak juga mampu menurunkan mataku, bahkan sekarang mataku beusaha berputar dan keatas, ayah ku berusaha memenangkan ibuku, beliau bersuara dengan lirih "ikhlaskan saja", ya allah, apa mungkin ini hari terakhirku. ibuku tak henti hentinya menangis dan memelukku erat, aku hanya bisa menahan sakit, berselang beberapa jam suster datang lagi memberiku pil yang sama, alhamdulilah tak lama mataku perlahan tenang, akupun bisa tidur setelah 5 hari tidak tidur, lumayan satu jam aku tidur, ibuku berusaha untuk istirahat, akupun bangun dengan perlahan mencari makanan karena begitu lapar, rasanya cukup perlahan langkahku, namun tetap langkahku membuat beliau terjaga,
"aku hanya berkata aku lapar, cuma ada roti gpp ya katanya", aku menjawab iya ".
pagi itu hujan begitu deras itu artinya alam ikut bersedih melihat kondisiku yang menyedihkan, suhu badan mulai normal, mata sudah tak lagi seperti orang step, tidak sampai disitu, kini aku sulit untuk berdiri dan duduk lama, rasanya ingin menjerit dan menangis, kasian ibuku, kasian ayaku, siang malam mereka tidak tidur hanya untuk merawatku, pihak rumah sakit akhirnya memutuskan untuk merujukku ke rumah sakit lain, butuh waktu 3 - 4 jam untuk sampai ke rumah sakit itu, keringat dingin sudah membasahi tubuhku, menahan sakit didalam, terpaksa berpura pura "i'am ok" di depan mereka agar mereka tenang, akhirnya kesabaran itu tiba, kami sampai di RS, dan harus menunggu dan mengantrri sedangkan aku sudah tak kuat untuk berdiri dan duduk, akhirnya namaku di panggil akupun masuk keruang dokter yang menanganiku, begitu banyak pertanyaan tidak penting di lontarkan, ntah agar aku tetap tenang atau apalah yang jelas rasanya tidak nyaman, terdengar uncapan dari bibir si dokter, ia berbicara pada ibuku, bahwa putri ibu mengidap gejala LIVER, apa itu ? ntahlah, sampai sekarang aku tak ingin tau apa itu LIVER, butuh waktu satu minggu bahkan lebih terkapar di RS, semenjak itu aku jatuh cinta sama masakan RS, dan sejak itu juga orangtua selalu mengingatkan untuk tidak telat makan, perhatian yang selalu tercurah begitu besar hingga hari ini.
lambatnya aku dalam berpikir juga tak sedikitpun membuat orangtuaku kecewa dan meyesal mendapatkan aku, pada kenyataannya memang benar aku lahir dengan kondisi keterlambatan dalam berpikir. sulitnya menerima pelajaran disekolah, selalu mendapat nilai yang tidak memuaskan tak membuat orangtuaku marah, hanya saja aku yang ketar ketir ketakutan, mereka tak pernah menuntutku agar aku berprestasi, mereka mengajarkan aku agar berani walau tak tau sekalipun, menyerah berarti kalah, itulah kiranya yang disampaikan orangtuaku.
Ketulusan dan keikhlasan mereka dalam membesarkan aku dengan penuh kasih sayang hingga sekarang tak pernah pudar, kekhawatiran dibalik ketenangan seorang ayah sampai detik ini masih terlihat bahwa dia ayah yang terbaik untukku. ayah yang selalu mengingatkan aku agar tidak melewatkan waktu untuk makan, dan minum obat, ayah yang tak pernah terlihat letih walau sebenarnya begitu melelahkan mengangkat beban hidup membesarkan aku. ayah yang begitu sabar mendengar keluh kesahku, ayah yang bersedia mendengar curhat kami anak anaknya, entah itu tentang persoalan asmara atau persoalan aku dengan lingkunganku, beliau juga rela menangis untukku ketika aku direndahkan, beliau selalu menguatkan aku, agar aku tumbuh dan besar menjadi pribadi yang kuat dan kokoh. beliau adalah sosok yang begitu peduli walau terkadang aku selalu memberontak, beliau adalah inspirasiku setiap waktu, suaranya yang lembut, pertanyaan yang selalu terlontar dari bibirnya selalu membuat hatiku ingin menangis ntah itu tangisan bahagia atau sebaliknya, yang jelas aku bahagia, terkadang adakala aku takut untuk mengangkat telponnya.ayah yang selalu berkata "tenang mendengar suaramu nak". ayah yang selalu menepati janji janjinya terhadap kami anak anaknya. i hope i can make you proud daddy, iam promise. help me god, i believe, ican do it. kini, beliau ayah juga ibu untuk kami anak anaknya. daddy is the best.
Komentar
Posting Komentar