Tak ada yang tau bahwa kami akan hidup bersama, ntah nanti atau kapan, yang kami tau bagaimana caranya untuk terus menjalin hubungan tetap harmonis tanpa ada kata gangguan, walaupun suatu saat kami harus memutuskan untuk tetap berteman saja, kini impian dan harapan yang selalu kami hayalkan menjadi sebuah kenyataan, hidup bersama layaknya suami istri seperti mereka sudahpun terjalin, sekarang kami sudah menjadi sepasang suami dan istri. bukan lagi menjadi pasangan kekasih yang sedang kasmaran. banyak rencana yang harus kami susun, dari mulai merencanakan memiliki momongan, pendidikannya, sampai bagaimana membangun anak menjadi bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, ternyata tak mudah menjadi orang tua yang seutuhnya. namun, segala sesuatu itu aku percaya bahwasannya  di balik setiap peristiwa  sudah ditakdirkan Tuhan bahwa kami mampu dan kuat menjalaninya.

Hidup yang sebenar benarnya baru saja di mulai dan kami harus ekstra hati hati akan krikil yang kami lalui, terkadang terlalu banyak meremehkan sesuatu yang kecil itulah yang akan mencelakakan hubungan kami, dan itulah yang sedang kami pelajari bersama, menjadikan setiap problem sebagai sahabat, dan membiarkannya pergi dengan sendiri tanpa harus keluar air mata atau pertengkaran hebat, karena pada dasarnya komitment awal dalam pernikahan kami adalah berjanji untuk terus menjadi pelengkap dalam setiap kekurangan kami. bukan terus menerus mencari kesempurnaan dan mencurigai ia yang tak sengaja melakukan kesalahan. bertanya dengan penuh kasih , merangkul dengan penuh cinta akan membuatnya sadar bahwa kitalah yang utama dan paling utama dan tak pantas untuk di Khianati. dengan kita marah, dengan kita bertengkar hebat, akan kah masalah akan terpecahkan, aku rasa tidak, pada dasarnya bukan ia yang sepenuhnya melakukan kesalahan, melainkan kita juga harus sadar bahwa kita juga pernah melakukan hal yang salah. bijaklah dalam memilih dan memilah, tidak hanya memandang dengan sebelah mata. sebab itu kita harus siap akan badai yang akan menerpa dermaga kami, beginilah rasanya menjadi seorang istri, selalu menebar senyum agar sang kapten selalu semangat dikala lelah, begitu sebaliknya, si kapten selalu peka akan ketidaknyamanan si nakhoda, mungkin ada sesuatu yang sedang si nakhoda pikirkan. 

bahagianya memiliki suami seperti dia, lelaki yang dulu tanpa ada kata cinta, kini kami menjalinnya dalam bahtera rumah tangga, cukup lama kami kenal, namun, tak sedikitpun terlintas untuk kami menjalin hubungan sebagai pacar, cukup dengan berteman hubungan kami sudah sangat erat. mungkin ini yang benar benar jodoh, kami saling berbagi cerita, tak pernah punya rasa segan antara satu sama lain, bahkan selalu berbagi walau itu kisah memalukan kami. mungkin itulah sebabnya mengapa Tuhan pada akhirnya mempertemukan kami dalam suatu ikatan ijab qabul, dan kini aku mengerti bahwa dialah yang selama ini sabar menanti aku untuk membuka gerbang hatiku sendiri, laki laki yang jaraknya lebih muda dariku, membuat aku selalu tertawa bila bersamanya, sejak kami masih berteman hingga kami memiliki setatus menikah, ia tak pernah lelah menghadapi sifat ku yang kekanak kanakan. ia happy with you, and aku tidak ingin kehilangannya selamanya. love you my hubby. tetaplah menjadi yang terbaik di antara kami keluargamu juga orangtua kita.

Komentar

Postingan Populer